Showing posts with label Don't Sweat the Small Stuff. Show all posts
Showing posts with label Don't Sweat the Small Stuff. Show all posts

Sunday, June 3, 2012

Tersenyumlah Kepada Orang yang Tak Anda Kenal, Tatap Matanya, dan Sapalah



Pernakah anda memperhatikan atau memikirkan betapa sedikitnya kontak mata yang kita lakukan dengan orang yang tidak kita kenal? mengapa? Apakah kita takut pada mereka? apa yang membuat kita tidak mau membuka hati untuk orang-orang yang tidak kita kenal?

Saya tidak tahu persisnya jawaban bagi pertanyaan ini, tetapi saya yakin bahwa ada hubungan pararel antara sikap kita terhadap orang yang kita tidak kenal dengan kadar kebahagiaan kita secara keseluruhan. Dengan kata lain, sangat jarang kita menemukan ada orang yang berjalan sambil menunduk, menghindari bertatapan dengan orang, yang kita kenal sebagai orang yang periang dan penuh kedamaian.

Saya tidak bermaksud menyarankan bahwa lebih baik menjadi orang yang ekstrover daripada introver, sehingga anda harus mengerahkan energi ekstra untuk berusaha membuat cerah hari orang lain, atau anda harus berpura-pura ramah. Tapi, saya menyarankan untuk menganggap orang yang tak anda kenal itu setidak-tidaknya mirip dengan kita dan perlakukanlah mereka tak hanya dengan kebaikan dan rasa hormat namun juga dengan senyum dan kontak mata.

Monday, May 21, 2012

Biarin Yang Kecil-Kecil Berlalu




Sering sekali saya merisaukan hal-hal yang setelah saya amati lebih jauh, ternyata bukanlah masalah besar, saya terpaku pada masalah-masalah kecil dan terlalu membesar besarkannya. Contohnya bila ada orang yang menyalip kendaraan saya -- bukannya membiarkannya dan melanjutkan urusan saya, saya meyakinkan diri sendiri bahwa saya berhak untuk marah.

Saya menayangkan pertengkaran imajiner dikepala saya. Banyak yang malahan kemudian menceritakan kejadian ini kepada orang lain, bukannya malah melupakannya begitu saja.

Mengapa tidak bisa melupakan kejadian itu dan biarkan orang itu berlalu yang anti bisa saja justru mendapatkan kecelakaan ditempat lain? Cobalah bersimpati pada orang itu dan bayangkan betapa meneganggkannya berada dallam keadaan tergesa-gesa, mungkin salah satu keluarganya ada yang sedang sakit , istrinya ingin melahirkan, mungkin juga terlambat masuk kantor atau bahkan telat sekolah. Dengan  cara ini, perasaan sejahtera kita tak akan terganggu dan kita terhindar dari terkena masalah pribadi orang lain.

Banyak "hal-hal kecil" serupa yang terjadi dalam hidup kita. Harus menunggu giliran, mendengarkan kritik yang tidak fair, mendapatkan bagian yang paling banyak untuk mengerjakan tugas presentasi(anak kuliahan) 
Semuanya akan sangat membebani bila kita tidak belajar untuk tidak memusingkan hal-hal kecil. Bagitu banyak orang yang menghabiskan waktu dan energinya untuk "memusingkan hal-hal kecil" sehingga mereka sama sekali kehilangan sentuhan dengan keajaiban dan keindahan hidup ini.

Bila kita berniat untuk berusaha mencapai tujuan ini, kita akan menemukan bahwa kita memiliki jauh lebih banyak energi untuk menjadi lebih baik hati dan lebih lemah lembut.

Friday, March 23, 2012

Jadilah Pihak yang Lebih Dulu Melakukan Pendekatan


Begitu banyak diantara kita yang bertahan pada rasa tidak suka yang mungkin menjadi awal pertenglaran, kesalahpahaman, pemicu kemarahan, atau saat-saat menyakitkan lainnya. Dengan leras kepala kita menunggu orang lain untuk mendekati kita--- percaya bahwa inilah satu-satunya cara kita dapat memaafkan atau menghidupkan kembali suatu persahabatan atau hubungan keluarga .

      Seorang kenalan saya yang sering sakit-sakitan baru-baru ini berkata bahwa ia sudah hampir tiga tahun tak pernah berbicara dengan anak lak-lakinya. "mengapa" tanya saya. Ia berkata bahwa ia dan anaknya punya perbedaan pendapat mengenai istri anaknya tersebut dan ia tak akan mau berbicara dengan anaknya lagi, kecuali anaknya itu yang menelefonnya terlebih dahulu. ketika saya menyarankan agar ia saja yang memulai pembicaraan  terlebih dahulu, mula-mula ia menolak dan berkata " Aku tidak bisa melakukannya, Ia yang seharusnya meminta maaf kepada ku...". Ia benar-benar dalam keadaan sakit parah sebelum ia menghubungi anak laki-lakinya itu.
     Namun setelah saya membujuknya dengan halus ia memutuskan untuk mejadi pihak yang lebih dulu memulai pembicaraan. Tak disangka sekali bahwa anaknya sengat berterimakasih atas keinginannya untuk menelefon dan menyatakan permintaan maafnya.

Memang ini biasanya kasus yang sering terjadi ketika seseorang mengambil kesempatan dan memulai pembicaraan, semua orang akan diuntungkan.

Setiap kali memendam amarah, kita mengubah "masalah kecil" menjadi "masalah besar" dalam pikiran kita. Kita mulai percaya bahwa posisi kita lebih penting daripada kebahagiaan kita.  Ternyata tidak demikian. Bila kita ingin menjadi orang yang lebih tenang, kita harus memahami bahwa mejadi yang benar tidak pernah lebih pentin gdaripada membuat diri kita bahagia.

Cara untuk menjadi bahagia adalah membiarkan masalah itu berlalu, dan mulailah dengan berbicara lebih dahulu. Biarkan orang lain menjadi benar. Ini tidak berarti bahwa kita salah, semua akan baik-baik saja.
kita akan menikmati pengalaman membiarkan orang lain menjadi yang "benar", mereka tidak akan difensif dan lebih menyukai kita. Mereka mungkin akan mendekati kita kembali. Tetapi, bila karena berbagai alasan mereka tidak melakukannya, itu tidak menjadi soal.

Kita akan mendapatkan bahwa kepuasan batin dari memahami bahwa kita telah mengerjakan tugas kita untuk menciptakan dunia yang penuh kasih sayang, dan tentu saja kita sendiri akan menjadi lebih tentram