Saturday, June 23, 2012

SHMILY



Kakek-neneku sudah lebih dari setengah abad menikah, namun tetap memainkan permainan istimewa itu sejak mereka bertemu pertama kali. Tujuan permainan mereka adalah menulis kata "shmily" ditempat-tempat yang secara tak terduga akan ditemukan oleh yang lain . Mereka bergantian menulis "shmily" di mana saja di dalam rumah. Begitu yang lain menemukannya maka yang menemukan sekali lagi mendapat giliran menulis kata itu di tempat tersembunyi.

Dengan jari mereka menorehkan "shmily" di dalam wadah gula atau tepung, untuk ditemukan oleh siapapun yang mendapat giliran menyiapkan makanan. Mereka membuatknya dengan embun yang menempel pada jendela yang menghadap ke beranda belakang, tempat nenek selalu menyuguhkan puding warna biru yang hangat, buatannya sendiri. "shmily" dituliskan pada uap yang menempel pada kaca kamar mandi setelah seseorang mandi air panas; kata-kata itu akan muncul berulang-ulang setiap kali ada yang selesai mandi. Neneku bahkan pernah membuka gulungan tisu toilet dan menulis "shmily" di ujung gulungan itu.

"Shmily" bisa muncul dimana saja. pesan-pesan singkat dengan "shmily" yang ditulis tergesa-gesa bisa ditemukan di dasbor atau jok mobil, atau direkakatkan pada kemudi. catatan-catatan kecil diselipkan kedalam sepatu atau diletakan dibawah bantal. "shmily" digoreskan pada lapisan debu diatas perapian atau pada timpunan perapian. Di rumah kakek-nenek ku, kata yang misterius itu merupakan sesuatu yang penting, sama pentingnya dengan perabotan.




Aku memerlukan waktu lama sekali sebelum benar-benar bisa memahami dan menghargai permainan mereka. Sikap skeptis membuatku tidak percaya bahwa cinta sejati itu ada- Cinta yang murni mengatasi segala suka dan duka. Meski begitu, aku tidak pernah meragukan hubungan kakek-nenekku. Mereka sungguh saling mencintai. Dengan cinta yang lebih mendalam daripada kemesraan yang mereka tunjukan; cinta adalah cara dan pedoman hidup mereka. Hubungan mereka didasarkan pada pengabdian dan kasih yang tulus, yang semua orang cukup beruntung untuk mengalaminya.

Kakek dan Nenek selalu bergandengan tangan kapan saja kesempatan memungkinkan. Mereka berciuman sekilas bila bertabrakan di dapur mereka yang mungil. Mereka saling menyelesaikan kalimat pasangannya. Setiap hari  merka bersama-sama mengisi teka-teki silang atau permainan acak kata. Nenekku membisikan kepadaku bahwa kakeku sangat menarik, dan bahwa semakin tua Kakek semakin tampan. Menurut nenek, dia tahu "bagaimana membuat kakek bahagia."  Sebelum makan mereka selalu menundukan kepala dan mengucap syukur atas rakhmat yang mereka terima: keluarga yang bahagia, rezeki yang cukup, dan pasangan mereka.

Tetapi, dalam kehidupan kakek-nenekku ada satu sisi kelam, nenekku menderita kangker payudara. Penyakit itu pertama kali diketahui  sepuluh tahun  sebelumnya. Seperti yang selalu dilakukannya, kakek selalu mendampingi nenek menjalani setiap pengobatan. Dia menghibur nenek di kamar kuning mereka, yang sengaja di cat dengan warna itu agar nenek selalu dikelilingi sinar matahari, bahkan ketika dia terlalu sakit untuk keluar rumah.

Sekali lagi kangker menyerang tubuh nenek. Dengan bantuan sebatang tongkat dan tangan kakekku yang kukuh, mereka tetap pergi gereja setiap pagi. Tetapi nenekku dengan cepat menjadi lemah sampai, akhirnya, ia tidak bisa lagi keluar rumah. Kakek pergi ke gereja sendirian, berdia agar Tuhan menjaga istrinya. Sampai pada  suatu hari, apa yang kami takutkan terjadi. Nenek meninggal.

"Shmily." Kata itu ditulis dengan tinta kunign pada pita-pita merah jambu yang menghias buket bunga duka untuk nenekku. Setelah para pelayat semakin berkurang dan yang terakhir beranjak pergi, para paman dan bibiku, sepupu-sepupuku, dan anggota keluarga lainnya maju dan mengelilingi nenek untuk yang terakhir kali. Kakek melangkah mendekati peti mati nenekku lalu dengan suara gemetar, dia menyanyi untuk nenek. Bersama air mata dan kesedihannya, lagu itu dia nyanyikan; lagu ninabobo dalam alunan suara yang dalam dan parau.

Tergetar oleh kesedihanku sendiri, aku takkan pernah melupakan saat itu, Karena pada saat itulah, meskipun belum dapat mengukur dalamnya cinta mereka, aku mendapat kehormatan menjadi saksi keindahan yang abadi

"..S-H-M-I-L-Y: See How Much I Love You.."
 Lihat Betapa Aku Mencintaimu.
Terimakasih kakek dan nenek, karena telah mengizinkan ku melihatnya.

"Chiken Soup For the Couple's Soul"

No comments:

Post a Comment